Sumber Anyar (Kampung Pesantren)
SUMBER ANYAR SEBAGAI SEBUAH KAMPUNG PONDOK PESANTREN
A. Bani Zubair Dan Perkembangan Pondok Pesantren Di Sumber Anyar
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa yang mengasuh Langgarrajah setelah wafatnya Kyai Zubair adalah puteranya yang bernama Kyai Umro alias Kyai Ratu, sedangkan putera-puteri Kyai Zubair yang lainnya sudah mulai menyebar menempati tanah-tanah kosong miliknya di sekitar Langgarrajah.
Oleh karena putera-puteri Kyai Zubair termasuk orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan agama yang lebih daripada masyarakat pada zamannya, dan disamping itu mereka juga punya kharisma dan pengaruh ditengah-tengah masyarakat, maka merekapun punya santri sendiri-sendiri, sehingga di kediaman mereka didirikan langgar sebagai tempat mengaji dan sekaligus sebagai tempat tinggal santri-santrinya.[1] Diantara langgar-langgar tersebut selanjutnya ada yang berkembang menjadi pesantren-pesantren, namun ada pula yang tetap sebagai tempat belajar mengaji Al-Quran bagi anak-anak kecil putera-puteri masyarakat sekitarnya. Dan sejak periode tersebut, kampung Sumber Anyar mulai berproses menjelma sebagai sebuah kampung pondok pesantren.
Berikut ini beberapa langgar yang didirikan pada periode putra-putri kyai Zubair dan sebagian diantaranya berkembang menjadi pondok pesantren, yaitu :
1. Langgar di kediaman Nyai Nuri binti Kyai Zubair berkembang menjadi pesantren yang sekarang bernama pesantren An-Nuriyah, terletak kurang lebih seratus meter dari langgarrajah.
2. Langgar di kediaman Kyai Ajma’in bin Kyai Zubair. Disebut Langgardajah. Berkembang menjadi pesantren, terletak berdampingan di sebelah utara langgarrajah.
3. Langgar di kediaman Nyai Bina binti Kyai Zubair. Disebut Langgar Lembanah. Berfungsi sebagai tempat belajar mengaji bagi anak-anak kecil putra-putri masyarakat sekitarnya, terletak kurang lebih seratus dua puluh lima meter sebelah selatan Langgarrajah.
Waktu terus berjalan, dan seiring dengan perjalanan waktu, putra-putri Kyai Zubair yang sudah mulai memadati kampung Sumber Anyar inipun terus berkembang melahirkan generasi berikutnya. Periode ini disebut periode cucu-cucu Kyai Zubair.
Bani Zubair pada periode ini sudah ada yang berhijrah ke daerah lain, baik karena faktor proses perkawinan atupun karena faktor lainnya, diantaranya adalah :
Kyai Muhfanni bin Kyai Umro, hijrah ke Toronan Pamekasan (karena perkawinan).
Kyai Raden Ruham alias K.H Abdurrahman bin Nyai Nuri, hijrah ke Kembang Kuning Larangan Pamekasan (karena perkawinan).
Kyai Anom bin Kyai Ajma’in, hijrah ke Akkor Palengaan Pamekasan (karena perkawinan).[2]
Nyai Hayati binti Nyai Bina, hijrah ke Montor Baddurih Pademawu Pamekasan.
Adapun cucu Kyai Zubair yang tetap berdomisili di Sumber Anyar, diantara mereka ada yang menjadi penerus mengasuh pesantren atau langgar warisan pendahulunya, ada pula yang menyebar menempati tanah-tanah kosong miliknya di kawasan kampung Sumber Anyar.
Dan sejalan dengan pertumbuhan Bani Zubair pada periode cucu-cucu Kyai Zubair, maka, secara bertahap, keberadaan langgar di kampung Sumber Anyar bertambah pula. Berikut ini bebrapa langgar yang didirikan pada periode tersebut diantaranya ada yang berkembang menjadi pesantren :
1. Langgar di kediaman nyai Nuriyah binti Nyai Nuri. Disebut Langgar Soklancar atau Pesantren Soklancar, sekarang bernama Pondok Pesantren Al-Mawardi terletak kurang lebih 300 meter di sebelah barat daya Langgarrajah.
2. Langgar di kediaman Raden Kholil bin Nyai Nuri. Disebut Langgar Tengger, terletak kurang lebih 300 meter sebelah barat Pondok Pesantren Al-Mawardi Soklancar.[3]
3. Langgar di kediaman Kyai Asral Ma’surin bin Kiyai Umro. Disebut Langgar Sumber Lancar, sekarang bernama Pondok Pesantren Mahmud Asral, terletak kurang lebih 100 meter sebelah barat dari kediaman Raden Kholil Tengger.
4. Langgar di kediaman Kiyai Hafadloh alias Kyai Fala bin Nyai Nuri, terletak di sebelah barat Pondok Pesantren An-Nuriyah.
Dan sejalan dengan putaran zaman, cucu-cucu Kyai Zubair-pun terus berkembang melahirkan generasi berikutnya. Periode ini disebut periode cicit-cicit Kyai Zubair. Dan seiring dengan kondisi tersebut maka keberadaan langgar di kampung Sumber Anyar bertambah pula.
Berikut ini beberapa langgar yang dibangun (didirikan) pada periode tersebut, diantaranya ada yang berkembang menjadi pesantren yaitu :
1. Langgar di kediaman Kyai Marzuqi bin Kyai Syukriwa. Disebut Langgar Bara’dajah, berkembang menjadi pesantren bernama Pondok Pesantren Al-Marzuqi, terletak kurang lebih 150 meter di sebelah barat laut Langgarrajah.
2. Langgar di kediaman Kyai Fathullah bin Bindere Hadu alias Kyai Nawa. Sekarang bernama Pesantren Al-Miftah terletak kurang lebih 100 meter di sebelah barat Pondok Pesantren An-Nuriyah.
3. Langgar di kediaman Nyai Danti binti Kyai Syukriwa. Disebut Langgar Kebunsari (Bhunsari). Berfungsi sebagai tempat belajar mengaji al-Quran bagi anak-anak kecil putra-putri masyarakat sekitarnya. Terletak kurang lebih 350 meter di sebelah timur laut Langgarrajah.
B. Bani Zubair pada Zaman Perang Kemerdekaan
Pada masa perang merebut kemerdekaan, banyak diantara putra-putra para pengasuh Pondok Pesantren Sumber Anyar yang terlibat langsung dalam perang fisik melawan tentara Belanda, diantaranya adalah:
KH. Mawardi Yasin,[4] beliau tercatat sebagai pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia, beliau wafat pada tahun 1950 M.
KH. Jufri Marzuqi,[5] beliau sebagi anggota Laskar Sabilillah.
KH. Syarqowi Miftahul Arifin,[6] beliau sebagai anggota Laskar Sabilillah.
KH. Muhammad Tamim Marzuqi,[7] beliau juga tercatat sebagi anggota Laskar Sabilillah.
Sebenarnya masih ada diantara Bani Zubair yang juga bergabung dalam Laskar Sabilillah, akan tetapi penulis hanya menyebut empat personal tersebut karena mereka terbilang aktif dan memiliki peran penting dalam setiap aksi Laskar Sabilillah melawan kolonial Belanda.
C. Perkembangan Pondok Pesantren Sumber Anyar Sesudah Kemerdekaan
Berikut ini beberapa pondok pesantren/ langgar di Sumber Anyar yang didirikan sesudah kemerdekaan yaitu:
Pondok Pesantren An-Nur didirikan pada Tahun 1959 M. oleh KH bahwi bin Khafi, menantu KH. Syahri Marzuki Laggarrajah.
Pondok Pesantren Raudltul Qur-an, dibina oleh KH. Syahri bin KH. Abdul Halim.
Pondok Pesantren Bahrul Huda Sumber Lancar dibina oleh KH. Bahrawi Alawi.
Pondok Pesantren Al-Madani, dibina oleh KH. Khazin Mahmud, Menantu KH. Syahri Marzuqi Langgarrajah.
Pondok Pesantren Fakhrul Huda/ As-Sirojuddiny Sumber Lancar Tengger dibina oleh KH. Sirojuddin Bukhari.
Pondok Pesantren Al-Hamidy, dibina oleh KH. Rahbini Jawahir, menantu KH. Syahri Marzuqi langgarrajah.
Langgar di kediaman K. Tahal (Kyai Mustahal) Tengger Sumber Lancar, dibina oleh K. Tahal.
Laggar di kediaman Nyai Yumna binti Kyai Syafrawi Sumber Lancar Tengger dibina oleh Nyai Nuriyyah dan Nyai Yumna.[8]
Pondok Pesantren Al–Bustami Sumber Lancar, dibina oleh Kyai Mustami Mu’in.
Pondok Pesantren Al-Mubtadi’in Tengger Sumber Lancar dibina oleh Kiyai Mas’udi Mu’in.
Pondok Pesantren Al-Ma’surin dibina oleh KH. Azhari Mahmud, menantu KH. Abdul Mu’thi Fathullah.
Pondok Pesantren As-Syalafiyah, dibina oleh KH. Ahmadi Sidik Soklancar.
Laggar (musholla) dikediaman Kyai Mujtaba dibangun pada Tahun 1999 oleh Kyai Mujtaba, menantu K Dasuqi Syafrawi .
1. Tentu saja langgar pada masa itu masih sangat sederhana (masih terbuat dari gedhek).
[2]. Kyai Anom Akkor ini tidak mempunyai keturunan.
[3]. Kediaman Raden Kholil tersebut sekarang ditempati nyai Mudaniyah binti kyai Jawahir.
[4]. Kyai Haji Mawardi Yasin adalah putra kyai Yasin pengasuh pondok pesantren Soklancar Sumber Anyar.
[5]. Kyai Haji Jufri adalah purta kyai Haji Marzuqi Sumber Anyar, Kyai Haji Jufri hijrah ke Sumber Batu Blumbungan dan mendirikan pondok pesantren yang sekarang bernama PP.As-Syahidul Kabir.
[6]. Kyai Syarqowi adalah putra kyai Miftahul Arifin Sumber Anyar. Kyai Haji Syarqowi hijrah ke Panempan Pamekasan dan mendirikan pesantren yang sekarang beranama PP. Matsaratul Huda.
[7]. Kyai Haji Muhammad Tamim adalah putra Kyai Haji Marzuqi Sumber Anyar. K.H Muhammad Tamim pindah dan menetap di Morpenang Larangan Luar, beliau juga mendirikan lembaga pendidikan Islam di tempat tersebut.
[8]. Nyai Nuriyyah adalah Istri Kyai Syafrawi yang ketiga, ibu kandung Nyai Yumna. Nyai Yumna tidak mempunyai keturunan.
COPAS :http://jaylibraz.blogspot.co.id
ALUMNI JURUSAN KEPERAWATAN 2017
Semoga Kalian Sukses...!!
UPACARA 17 AGUSTUS 2016
Menumbuhkan Semangat Kemerdekaan. Memupuk Rasa Kebersamaan dan Mengukir Masa Depan Bersama Teman Seperjuangan..!!
PRAMUSINDO
(Perkemahan Santri Cinta Indonesia) SMK SUMBER ANYAR 2016
PKL (Praktek Kerja Lapangan) Jurusan Teknik Sepeda Motor
Menjawab Tantangan Masa Depan Dengan Modal Skill Dan Kemampuan Yang Meyakinkan
K.H. MAKHRUS ALI MALIDJI, S.Ag (Ketua Yayasan Az-Zubair)
Dalam Sambutannya Pada Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sabtu, 17 Juni 2017
Jumat, 16 Juni 2017
Rabu, 14 Juni 2017
Senin, 12 Juni 2017
KURINDU SENYUMMU TEMAN
“ kenapa sih kmu itu….., nggk pernah berubah. Kamu tahu nggak
gara-gara kamu aku hampir saja nggak bisa ikut ujian. Kalo memang kamu udah nggak
bisa kayak dulu lagi, mendingan kita akhiri saja hubungan ini “. dengan mata
melotot Rina marahi Dika yang tertunduk bingung “ kamu nggak pernah tepat waktu
selalu saja telat. Coba saja kamu seperti
cowok yang lain pasti aku nggak bakalanmarah.
“ Rin…, sebenarnya”. Ucap Dika, namun seperti ada sesuatu yang mengganjal
di tenggorokannya. Sehingga ia tak bisa menjelaskan sebenarnya
“ trus sebenarnya apa ? “.
“nggak kok, nggak apa-apa. Sudahlah Rin kan yang penting sekarang
tugasmu sudah selesai, nggak usah marah ya….mending kita ke kantin “. Rayu Dika
“
emang sampe kapan sih kamu seperti ini terus, soalnya ini bukan yang pertama
dan ini pasti bukan yang terakhir, kamu seperti ini sudah terlalu sering Dik
kamu itu ingkar dengan ucapanmu sendiri. Aku nggak kuat lagi sering kamu dikasih
kesempatan untuk memperbaikinya sering pula kamu menyiakan kesempatan itu, apa
sih sebenarnya yang terjadi sehingga kamu seakan mengabaikan hubungan kita.
Kalo emang kamu nggak serius mending kit,,,,,” . belum selesai Rina bicara datang
seorang cowok dengan perawakan korea, orangnya putih rapi dengan rambut cepak
tersisir rapi, ditambah wangi parfum yang ia kenakan.
“
hai Rin ke kantin yuk,,,”. Wajah Rina yang tadinya penuh dengan kemarahan, seketika
berubah. Dengan senyum manis ia sambut ajakan si cowok tanpa mempedulika Dika
yang berdiri disampingnya. Dika hanya diam dan heran siapa cowok yang sudah
mampu mengubah mod Rina dengan seketika.
Dengan
membawa tugas prakarya yang dibuat Dika, Rina pergi dengan si cowok. Yang
tambah buat Dika kecewa selain acuh Rina pada dirinya, ialah sikap Rina pada si
cowok. Mereka seakan sudah lama saling kenal, bahkan mereka tak sungkan lagi untuk
saling gandengan tangan menuju kantin. Dika terus memandangi kepergian Rina
dengan Riyan nama si cowok. Dika tak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya ia
baru saja tersengat listrik melihat kemesraan Rina yang tak lain adalah
pacarnya, yang sudah membuat sesak dan diam seribu bahasa. hanya bisa
memandangi dan terus memandangi kepergian cintanya.
Dalam
hatinya ia terus bertanya-tanya kenapa Rina tega pada dirinya. Padahal apa yang
Rina minta ia turuti. Ia tak pernah menolaknya, meski memang kadang ia sering
telat dan lupa dengan janjinya sendiri. Namun semua itu bukan tanpa alasan,
melainkan karena ada sesuatu yang ia tutupi karena tidak bisa ia utarakan ke Rina
untuk saat ini. karena belum saatnya Rina tahu apa yang sebenarnya terjadi pada
dirinya.
Dika
memang punya niat untuk menjelaskan semua penyebab kenapa akhir-akhir ini ia
selalu telat dan tak bisa menepati janjinya. Ia khawatir dan takut ini semua
akan menjadi pemantik retaknya hubungan mereka. Hubungan yang telah mereka bina
selama 5 tahun. Akhirnya kekhawatirannya jadi kenyataan, kini orang yang ia
sayang, yang dulu tak pernah marah, tak pernah mengecewakannya. Bahkan tak
pernah bosan terus memberinya semangat kala ia terpuruk dengan masalahnya.
Kini orang itu telah pergi meninggalkannya.
Coba seandainya Rina tahu masalah yang sebenarnya terjadi ia yakin Rina tidak
akan pernah tega dan takkan pernah bisa berbuat sepeerti itu, Dika sadar, tidak
sepenuhnya ia bisa menyalahkan Rina karena ia sendiri tidak bisa menjelaskan
alasan perubahan sikapanya.
Sampai
kapanpun ia janji pasti akan menjelaskan alasannya, Dika kini hanya tentunduk
letih dengan keringat menetes di keningnya.
“Hai
bro…., bukannya itu Rina ?“. Tannya Kiki
yang datang mengagetkannya. Namun Dika hanya mengangguk kecil
“
Kok bisa jalan sama Riyan, gimana ceritanya…?” Dika tersnyum lalu menepuk
pundak Kiki.
“
Udah nggak apa-apa kok “
“
Dik…., kok bisa sih, kamu setegar ini. melihat cewek sendiri jalan dengan cowok
lain kamu masih sempat bilang nggak apa-apa. Cerita kawan. Kalo kamu memang
lagi ada masalah, Mohammad Syahruki bin Makki siap selalu menjadi perdengar
setia buatmu. Oke….., tenang nggak usah bayar kok “ . goda Kiki
“Udah
nggak apa-apa…, ke kelas Yuk “.
“Bener
nggak apa-apa “ sekali lagi Dika hanya tersenyum dan mengangguk kecil saja,
meski sebenarnya Kiki tahu betul kalo antara Dika dan Rina lagi ada masalah,
namun Kiki tidak mau memaksa Dika untuk menjelaskan masalahnya. Ia sudah bisa
memahami Dika luar dalam, kalo memang ia mau ia pasti cerita. Namun untuk kali
ini mungkin Dika tidak ingin berbagi dengannya.
Hari-hari
makin terasa cepat bagi Dika semenjenjak status tak jelasnya dengan Rina,
mungkin menurut orang biasa semua terasa sulit dan berat untuk dijalani. Namun
bagi Dika ini semua merupakan momen penting yang perlu ia ingat dan abadikan.
Yang terpenting baginya adalah kabahagian orang yang ia sayang. Istilah cinta
tak harus memiliki adalah sebuah anugerah terindah yang pernah ia miliki,
meskipun tak semua orang setuju dengan istilah tersebut.
Siapa
yang rela melihat orang yang sangat disayangi, jatuh kepelukan orang lain.
Mungkin hanya sebagian yang menyetujuinya. Beneeeer kan…ya iyalah. Hari gini
masih saja masih mau mengalah sama orang lain. Nggk jaman kali
Sekarang
ini kan jamannya cintaku ya cintaku cintamu ya cintamu, masalah kita hidup
bahagia itu mah urusan belakangan yang yang penting aku harus sama dia. Namun
nggak bagi Dika ia malah bahagia melihat pujaannya bisa tersenyum meski
dipelukan orang lain.
Tak
terasa sudah dua minggu Dika putus ee……..e…………e…..... bukan putus, tapi nggak
akur sama Rina. Karena antara dirinya dengan Rina masih ada ikatan walaupun
kenyataannya Rina lebih sering jalan dengan riyan. Tak sengaja mereka papasan
waktu mau ke kantin sekolah, dengan wajah jeleus Rina menatap Dika, namun Dika
membalas dengan senyum. Rina malah bingung kenapa sedikitpun Dika tidak cemburu
dirinya jalan sama Riyan. Maklum karena dihatinya rasa itu masih ada untuk Dika,
rasa yang dulu sempat menghiasi hari-hari mereka baik saat bersama maupun
terpisah.
Kedekatannya
dengan Riyan bukan tujuan utama baginya, namun semua itu ia lakukan agar supaya
Dika cemburu dan mau berubah seperti dulu lagi, Dika yang selalu tepat waktu
dan menepati janjinya. Namun semua itu seakan sia-sia ia lakukan, karena
terbukti saat papasan sedikitpun tak tersirat rasa cemburu atas kemesraanya
dengan Riyan . malah ia sendiri yang merasa bersalah dan jauh dari Dika
Sadar
apa yang ia lakukan tak membuahkan hasil, akhirnya rasa benci beneran timbul di
hati Rina. Setiap ia bertemu Dika selalu
ia menghindar. Bahkan saat papasanpun dengan cepat ia menarik lengan Riyan dan
mengajaknya menjauh dari Dika.
Kiki
tambah bingung dan tidak sabar dengan kedua temannya tersebut. Ia merasa masalah
diantara keduanya bukan masalah biasa. Sebagai teman yang sudah lama mengenal
keduanya. Terketuk hatinya untuk tau lebih jauh akan masalah mereka.
“
Dik sebenarnya kalian itu ……? ” .
“
Ssssssttts…, tenang nggk apa-apa kok, “ .
“
Nggk apa-apa gimana buktinya kalian sudah nggak bersama lagi. Rina jalan sama Riyan
kamu biarin, Dik kamu itu masih menganggapku teman kan, kalo memang kamu masih
menganggap akau teman. Kenapa kamu nggak mau cerita. Atau jangan-jangan kamu
sudah nggak percaya lagi sama aku. Oke kalo memang itu pilihanmu mulai detik
ini kamu hapus nama Kiki dari daftar temanmu “ . Kiki mulai kesal dengan sikap
pasif Dika yang tak seperti biasa. Tak seperti Dika dulu ia kenal. Awalnya ia
bisa terima sikap tak biasa Dika, namun lama kelamaan semua tak bisa ia terima
lagi. Karena setiap ia tanya selalu Dika jawabnya tenang semua terkendali kok.
Terus apa gunanya ada teman kalo tidak saling percaya dan terbuka pikir Kiki.
“
Ki kok kamu gitu ?”.
“
Apanya gitu, terus kamu gimana dan dari mana. Dik asal kamu tahu mungkin ini
masalah biasa bagimu, sadar Dik semakin kamu seperti ini. semakin orang yang
ada disekitarmu bingung dan kesal dengan sikapmu . Pantesan Rina meninggalkanmu
dan memilih jalan dengan orang lain. Jadi ini penyebabnya, kamu berubah Dik tak
asyik lagi tak seperti dulu “. Tegas Kiki
“
Ki dengrin dulu…” ucap Dika sambil menarik tangan Kiki, yang hendak mau pergi
karena kesal dengan sikap tertutup Dika.
“
udah Dik, buat apa kita bersama kalo tak saling percaya “
“
Buka gitu ki…ki..Kiki….Kiki “. Kiki pun melepas tangan Dika dari lengannya. Dan
pergi meninggalkan Dika. Kini lengkap sudah derita Dika satu persatu orang yang
bararti dalam hidupnya pergi karena satu hal. Yakni perubahan sikap Dika yang
tak seperti biasa.
“
Ki coba saja kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, kamu pasti akan mau
mengerti kenapa aku seperti ini “. Ucap Dika lirih dengan mata berkaca melepas
kepergian Kiki. Dika pun pulang sekolah seorang diri, matanya masih berkaca
mengenang kebersamaan mereka dulu bertiga saat pulang sekolah, sesekali ia
berhenti sejenak di tempat-tempat yang dulu biasa mereka singgahi. Terlihat
bayangan disana saat mereka tertawa, bercanda dan melukis hari dengan senyuman
bersama. Namun mereka kini pergi. Dadanya terasa sesak, tenggorokan terasa
pahit mengenang momen penting bersama mereka.
Sesampainya
di rumah mata Dika masih berkaca bahkan pipinya sembab dengan air mata yang
sepanjang jalan terus bercucuran. Dengan langkah gontai ia rebahkan tubuhnya di
sebuah dipan tua depan rumahnya. Ia masih tak percaya dengan nasib yang
menimpanya kini. Kenapa tuhan memberi hidup padanya kalau akhirnya ia merasakan
pedih hidup tersebut. Sempat terucap dibibirnya rasa murka dengan tuhan atas penderitaan
hidup yang ia jalani, namun keburu sang ibu datang menghampiri dan memeluknya.
“
Huuuussssssssshhhh…., nggak boleh ngomong seperti itu Dik, nggak baik “ dalam
pelukan ibunya tangis Dika semakin jadi,
“
Kenapa sih bu, hidup Dika harus seperti ini. dosa apa yang telah Dika perbuat
hingga tuhan memberikan hidup seperti ini. Dika nggak kuat lagi bu menahan
semua ini, nggak kuat bu nggak kuaaaaaaaat….” Rintih Dika dengan tangis yang
semakin jadi, sang ibu pun ikut meneteskan air mata tak tega dengan derita sang
anak. Namun ia tak henti-hentinya terus memberi nasehat agar Dika tetep
semangat menjalani sisa hidupnya, dan terus kuat menahannya.
Keesokan
harinya Dika melihat Rina, Kiki dan riyan sedang asyik ngumpul bareng di taman
sekolah. mereka asyik sekali bercanda ria mengingatkan masa lalunya. Ia antara
yakin dan tidak untuk menghampiri mereka. Ia takut merusak keasyikan mereka,
namun sebelum semua terlambat mau tidak mau ia harus kasih tau mereka tentang
perubahan sikapnya. Agar tak ada lagi yang salah paham terhadapnya. Dengan
langkah kecil ia hampiri mereka. Namun sesampainya Dika hanya disambut dengan
sikap cuek dari mereka. Bahkan mereka terkesan tak mau mendengar dan tak mau
kenal lagi dengannya
“
Huuuuuchh…., si tukang bual datang nih bikinn nggk asyik saja, pergi yuk "
kata Rina setelah mengetahui Dika datang
di tengah keceriaannya.
“
Hai semua…” . Ucap Dika, boro-boro menjawab sapaan Dika, menatapnya pun ogah,
malah mereka pergi meningggalkan Dika. Dika menarik nafas panjang melihat
respon orang-orang yang sempat mengisi hari-harinya tak serespect dulu lagi.
Sakit rasanya diperlakukan seperti itu oleh orang-orang penting dalam hidupnya.
Ia kini duduk termangu sendiri dibangku taman, meratapi nasib yang tak
beruntung menjadi orang bernama Ramadika Maulana. Semakin diratapi semakin
terasa pahit hidup yang kini ia jalani. Semua orang sudah tidak mengharap
kehadirannya. Bahkan kini mereka menghendakinya untuk pergi. Terik mentari
semakin menyengat, sedikit demi dikit ia mulai bisa menerima kenyataan hidupnya.
Matanya terus memandangi sudut sekolah yang dulu sempat jadi saksi kebersamaan
mereka, ia ingin sekali lagi mengenang kebersamaan itu. Terus Ia pandangi setiap
detail sudutnya berharap disana ia temukan serpihan memori indah tentang
kebersaan mereka. Setelah puas rasanya mengingat lagi kenangan lalu Dika
beranjak dari taman dan pergi untuk selamanya.
1
jam masih belum bararti apa-apa bagi mereka. 1 hari sedikit membuat mereka
sadar akan pentingnya dia. 1 minggu mulai merindukan sosok bersahajanya, sosok
yang penuh keceriaan, sosok yang gigih berjuang dalam hidupnya. 1 bulan
kemudian mereka mulai merasa kehilangan. Karena sosoknya tak terlihat lagi. 1
teman baik telah hilang pergi meninggalkan mereka. Teman yang sempat memberikan
warna dalam hidup mereka. Teman yang setia baik suka maupun duka. Teman yang
sudah mengajarkan mereka arti sebuah pengorbanan seorang teman. Arti sebuah
perjuangan bahwa untuk bahagia tidak harus merampas kebahagian orang lain. Rina
dan Kiki penasaran dan sangat rindu dengan sosok Dika, mereka merasa bersalah.
Tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu pada Dika , akhirnya mereka
memutuskan untuk mengecek langsung ke kelas Dika. Untuk mencari informasi
keberadaan Dika sekarang. Namun di kelasnya Dika pun tak ada, mereka hanya dapat
informasi dari ketua kelas Dika. Bahwa Dika sebulan lalu mengirim surat izin
tidak masuk sekolah yang diantar langsung oleh ibunya. Namun saat ditanya
perihal izinnya sang ibu menjawab kalo Dika mau pergi kerumah kakeknya yang
sedang sakit keras. Begitulah informasi yang didapat mereka.
Namun
Rina dan Kiki masih belum puas dengan info tersebut, sehingga mereka memutuskan
untuk mengecek langsung ke rumah Dika. Mereka janjian selepas pulang sekolah untuk
ke rumah Dika bersama.
“
Lama banget sih ki…”
“
Ia maaf kamu kan tahu sendiri kalo pas jam bu Ratna. Guru yang sedetikpun nggak
mau korup masalah jam “. Jelas Kiki
“
Iya…iya sudah ayo aku dah lumutan nih nunggunya.”
“
Sip yuk berangkat”. Ucap Kiki sambil menyodorkan helm pink ke Rina
Sesampainya
mereka tak melihat batang hidung Dika, pikir mereka mungkin Dika memang lagi ke
rumah kakeknya dan belum balik. Mereka lalu masuk dan mengucapkan salam berkali-kali
naamun tidak ada orang yang keluar menemui mereka. Hingga memutuskan untuk
balik besok lagi, namun saat mereka menyalakan motornya terdengar suara pintu
yang terbuka. Segera mereka bergegas mengarahkan pandangannya pada asal suara
pintu. Dan ternyata disana dengan senyum khasnya ibu Dika memanggil mereka.
“
Eh nak Rina dan nak Kiki, maaf tante lama buka pintunya. Soalnya tante lagi
nyuci di belakang jadi nggk denger kalo lagi ada tamu. “ jelas si ibu Dika
“
Nggak apa-apa Tante “. Jawab Rina sambil nunggu Kiki yang lagi markirin motornya kembali
“
Oya tante…,tente nggak balik lagi ? “. Tanya Kiki
“
Balik Kemana..? “
“
Bukannya Dika nggak masuk sekolah karena liat kakeknya yang sakit keras”. Ucap Kiki
memperjelas pertanyaannya
“
Nggkk…tante nggak pernah, lagian kakek Dika itu mah udah lama meninggal”
“
Trusss…., surat izin yang..tan “ .
“
Oohh..itu, “ ucap ibu Dika memotong pertanyan Kiki, ibu Dika menghela nafas panjang,
berat rasanya menjelaskan pada mereka. Dengan suara sedikit serak ia
menjelaskan maksud surat yang ia kirim tempo hari
“
Gini, sebelumnya tante minta maaf. Karena sudah bohongin kalian dan pihak
sekolah. sebenarnya itu semua keinginan Dika agar tante menuliskan surat izin
seperti itu“. Jelas ibu Dika dengan mata sedikit berkaca
“
Trus Dika kemana tan ?”
“
Dika sudah sebulan nggak tinggal disini lagi, dan ia sudah tau kalo kalian akan
datang mencarinya. Ia pun pesan agar supaya kalian nggk usah tahu tentang
keberadaannya sekarang. Agar kalian tidak tersakiti lagi oleh perilakunya. Ia
ingin per…per…gi ja…jauh da.da.ri kaliaaan..”. ucap ibu Dika dengan tangis
pecah dan suara tersedat karena tak kuasa menahan rasa sedih yang mendalam.
“
Please tante kasih tau kami, Dika nggak boleh ngomong seperti itu. Karena kami
yang sudah tak mau peduli lagi sama dia. Awalnya kami memang tak terima dengan
perubahan sikapnya, namun kini kami minta sama tante agar tante mau kasih tau dimana
Dika sekarang. Please tante ….please “. Desak Rina yang penasaran dengan sikap Dika
“
Iya tante..please bantu kami, kami mau minta maaf pada Dika..”
“
Oke …tante akan anter kalian, tapi tante nggk bisa anter kalian sampe ke tempat
Dika sekarang tinggal. tante hanya bisa menunjukkan tempatnya saja ya…” jawab
ibu Dika sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Nggak
apa-apa tante “ Jawab Rina dan Kiki bersama
“
Tunggu bentar..”. ibu Dika masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan pakaian
sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Mereka pun berjalan menuju belakang rumah Dika.
Rina dan Kiki heran soalnya dibelakang rumah tidak satupun terlihat rumah
penduduk, melainkan hanya pekarangan kosong yang ditumbuhi ilalang dan deretan
pohon jati begitu rapih berbaris menghiasi pekarangan tersebut.
Mereka
saling bertanya heran kemana hendak dianter oleh ibunya Dika. Setelah lama
berjalan kira-kira 300 meter ibu Dika berhenti di sebuah tanah lapang dan
menunjuk sebuah gundukan tanah dengan tertancap nisan bertuliskan “ RAMADIKA
MAULANA” sontak membuat mereka kaget dan tak percya apa yang dilihat di depan
mereka. Rasa tak percaya memaksa mereka untuk lebih mendekat ke kuburan
tersebut.
“
tante…..”. ucap Rina dengan mata berkaca dan tangan kanannya menutup mulut, ibu
Dika juga tak kuasa mengenang derita sang anak, ia lalu memberika sepucuk surat
buat Rina. Tangis Rina makin jadi tak
terbendung lagi, kemudian ia terima surat dari ibu Dika dan membuka dengan
perlahan untuk tahu apa isi surat tersebut………..
Untuk
teman……….
Mendung
duka memang selalu membawa luka…………
Langit
tak secerah hari kemaren..
Senja
menjadi tanda gelap malam akan datang…..
Rembulan
menangis sinarnya terhalang kabut…..
Sang
lilin pun tak mau lagi berkorban.
Dada
ini sesak saat orang tersayang tak lagi datang…
Teman
saat kalian baca surat ini, mungkin aku sudah tak lagi bisa mendengar
Tak
lagi bisa melihat…
Namun
kepergianku ini tak ingin jadi misteri buat kalian
Sebelum
semua terlambat, aku ingin mengungkap teka-teki perubahan sikapku pada kalian.
terima
kasih teman kalian sudah mau berteman.
Terima
kasih untuk waktunya. Terima kasih untuk kebersamaannya….
Kebersamaan
itu akan aku bingkai indah dalam memory perjalanan hidupku…
Mungkin
aku orang yang beruntung di dunia ini….
Meski
hidupku tak lama
Tapi
aku bersyukur sempat mengenal kalian….
Ibarat
malam, kalian bintangnya
Terima
kasih atas warna yang telah kalian torehkan di sisa hidupku ini
Meski
singkat namun itu berarti bagiku….
Hidupku
lebih berarti karena kalian
Aku
lebih semangat untuk hidup, itu karena senyum dan support kalian…
Namun
takdirku sampai disini…..
Raga
ini tak mampu lagi menahan rasa sakit, yang kian hari kia jadi…
Aku
bukan tak mau berbagi…, tapi aku terlalu sayang kalian
Aku
tak ingin kalian sedih melihat keadaanku ini
Ini
duka bukan suka…
Aku
hanya ingin berbagi suka buka duka…
Aku
hanya ingin berbagi senyum bukan tangis…
Biarlah
duka dan tangis ini cukup aku yang merasakannya….
Teman……..,
maaf bila hari-hari terkhirku bersama kalian kurang begitu indah..
Hanya
karena aku tak bisa berbagi duka ini ke kalian…
Kini
aku tak bisa menjabat tangan kalian lagi, meski hanya sekedar mengucap maaf
Tapi
aku harap kalian mengerti, kenapa aku begini…
Maaf………….sekali
maaffff…
Aku
memang tak sempurna sebagai seorang teman, namun bersama kalian semua itu
terasa sempurna.
Maaf
tak bisa bersama meneruskan impian…
Teruskan
mimpi kalian….dan wujudkan mimpi kalian
Kebahagiaan
kalian, bahagiaku
Derita
kalian deritaku..
Kini
aku telah bahagia, bisa bebagi kisah…
Dan
tak usah kalian sesali pernah kenal Ramadika Maulana
Senyum
kalian akan selalu kurindukan………
Dari
orang
yang 5elalu tak sempurna
Ramadika Maulana
Rina dan kiki tak bisa berkata-kata, tangis mereka pecah
tak terbendung hingga terisak-terisak. Demikian ibu dika mereka larut dalam
duka. Orang yang mereka sayang kini telah tiada meninggalkan mereka untuk
selamanya. Meningalkan dongeng kebersamaan masa lalu. Ramadika Maulana sosok
percaya diri, kini telah menjadi cerita indah penuh luka dalam catatan Rina dan
Kiki.
Sinar matahari mulai redup mengiringi langkah mereka,
langkah gontai seorang teman dan seorang ibu yang tak kuasa menahan pilu. Pilu
kerana hhidup yang tak selaras dengan keinginan. Setelah mendengar semua kisah
akan penyakit Dika. dengan mata bengkak keduanya lalu pamitan pulang karena
haripun mulai petang, dari situ kisah persahabatan mereka berkhir pula. Kini
mereka hanya meratapi kesalahannya karena tak mampu memahami bahkan tak bisa
hadir sebagai seorang sahabat, saat sahabatnya lagi jatuh di lembah derita.
Derita karena penyakit yang didera dika hingga merenggut nyawanya. 1 hal
yang membuat mereka tambah terlihat tak berguna sebagai seorang sahabat ialah
mereka sempat menjauhi dika hanya karena sikapnya yang berubah, pada saat Dika
butuh kehadiran mereka. Padahal perubahan sikapnya semata tak ingin temannya merasakan sakit yang dideritanya.
***
Kisah ini aku tulis agar kita tidak menilai orang dari
luarnya saja. Apalagi menilai sahabat sendiri. Butuh 1 detik untuk
menghancurkan bangunan tinggi yang kokoh berdiri, namun butuh berjuta-juta
detik merangkai utuh kembali. Bisa lebih, bahkan tak bisa dikembalikan lagi
bangunan tersebut, hargailah orang yang sayang pada anda karena kita tidak tahu
hari esok, mungkin mereka sudah tak sempat lagi untuk menyangi anda.
Demikian dengan kita dalam menjalani sebuah persahabatan,
bagi saya arti sahabat adalah saling memahami, percuma kita saling terbukka,
saling percaya dan saling-saling yang lainnnyaaa. Jika kita tidak bisa
memahaminya, sahabat adalah orang yang paham kalo kita lagi susah, paham kalo
kita bahagia, pahamm kalo kita butuh teman untuk sekedar berbagi cerita, dan
paham kalo kita butuh sandaran dalam menghadapi kerasnya hidup, bahkan pahamm
kalo kita butuh diut hehehehhe…….,itu shabat namanya. Sehingga tidak ada lagi
kisah hidup seperti Dika lagi dan tidak ada lagi pertengkaran hanya karena
salah paham (apapun itu jenisnya) pokoknya salah paham.
Tak masalah jika kita salah paham tapi endingnya baik atau
bahagia, tapi sayang jika kita salah paham pass endingnya luka, sedih bahkan
harus rela kehilangan orang yang kita syang. Kasiaaaaaannn dech…. Kalo semua
itu terjadi sama kalian.
SAY NO TO SALAH PAHAM



