Sabtu, 17 Juni 2017
Home
»
»
SEJARAH KAMPUNG SUMBER ANYAR
SEJARAH KAMPUNG SUMBER ANYAR
Sumber Anyar (Kampung Pesantren)
SUMBER ANYAR SEBAGAI SEBUAH KAMPUNG PONDOK PESANTREN
A. Bani Zubair Dan Perkembangan Pondok Pesantren Di Sumber Anyar
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa yang mengasuh Langgarrajah setelah wafatnya Kyai Zubair adalah puteranya yang bernama Kyai Umro alias Kyai Ratu, sedangkan putera-puteri Kyai Zubair yang lainnya sudah mulai menyebar menempati tanah-tanah kosong miliknya di sekitar Langgarrajah.
Oleh karena putera-puteri Kyai Zubair termasuk orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan agama yang lebih daripada masyarakat pada zamannya, dan disamping itu mereka juga punya kharisma dan pengaruh ditengah-tengah masyarakat, maka merekapun punya santri sendiri-sendiri, sehingga di kediaman mereka didirikan langgar sebagai tempat mengaji dan sekaligus sebagai tempat tinggal santri-santrinya.[1] Diantara langgar-langgar tersebut selanjutnya ada yang berkembang menjadi pesantren-pesantren, namun ada pula yang tetap sebagai tempat belajar mengaji Al-Quran bagi anak-anak kecil putera-puteri masyarakat sekitarnya. Dan sejak periode tersebut, kampung Sumber Anyar mulai berproses menjelma sebagai sebuah kampung pondok pesantren.
Berikut ini beberapa langgar yang didirikan pada periode putra-putri kyai Zubair dan sebagian diantaranya berkembang menjadi pondok pesantren, yaitu :
1. Langgar di kediaman Nyai Nuri binti Kyai Zubair berkembang menjadi pesantren yang sekarang bernama pesantren An-Nuriyah, terletak kurang lebih seratus meter dari langgarrajah.
2. Langgar di kediaman Kyai Ajma’in bin Kyai Zubair. Disebut Langgardajah. Berkembang menjadi pesantren, terletak berdampingan di sebelah utara langgarrajah.
3. Langgar di kediaman Nyai Bina binti Kyai Zubair. Disebut Langgar Lembanah. Berfungsi sebagai tempat belajar mengaji bagi anak-anak kecil putra-putri masyarakat sekitarnya, terletak kurang lebih seratus dua puluh lima meter sebelah selatan Langgarrajah.
Waktu terus berjalan, dan seiring dengan perjalanan waktu, putra-putri Kyai Zubair yang sudah mulai memadati kampung Sumber Anyar inipun terus berkembang melahirkan generasi berikutnya. Periode ini disebut periode cucu-cucu Kyai Zubair.
Bani Zubair pada periode ini sudah ada yang berhijrah ke daerah lain, baik karena faktor proses perkawinan atupun karena faktor lainnya, diantaranya adalah :
Kyai Muhfanni bin Kyai Umro, hijrah ke Toronan Pamekasan (karena perkawinan).
Kyai Raden Ruham alias K.H Abdurrahman bin Nyai Nuri, hijrah ke Kembang Kuning Larangan Pamekasan (karena perkawinan).
Kyai Anom bin Kyai Ajma’in, hijrah ke Akkor Palengaan Pamekasan (karena perkawinan).[2]
Nyai Hayati binti Nyai Bina, hijrah ke Montor Baddurih Pademawu Pamekasan.
Adapun cucu Kyai Zubair yang tetap berdomisili di Sumber Anyar, diantara mereka ada yang menjadi penerus mengasuh pesantren atau langgar warisan pendahulunya, ada pula yang menyebar menempati tanah-tanah kosong miliknya di kawasan kampung Sumber Anyar.
Dan sejalan dengan pertumbuhan Bani Zubair pada periode cucu-cucu Kyai Zubair, maka, secara bertahap, keberadaan langgar di kampung Sumber Anyar bertambah pula. Berikut ini bebrapa langgar yang didirikan pada periode tersebut diantaranya ada yang berkembang menjadi pesantren :
1. Langgar di kediaman nyai Nuriyah binti Nyai Nuri. Disebut Langgar Soklancar atau Pesantren Soklancar, sekarang bernama Pondok Pesantren Al-Mawardi terletak kurang lebih 300 meter di sebelah barat daya Langgarrajah.
2. Langgar di kediaman Raden Kholil bin Nyai Nuri. Disebut Langgar Tengger, terletak kurang lebih 300 meter sebelah barat Pondok Pesantren Al-Mawardi Soklancar.[3]
3. Langgar di kediaman Kyai Asral Ma’surin bin Kiyai Umro. Disebut Langgar Sumber Lancar, sekarang bernama Pondok Pesantren Mahmud Asral, terletak kurang lebih 100 meter sebelah barat dari kediaman Raden Kholil Tengger.
4. Langgar di kediaman Kiyai Hafadloh alias Kyai Fala bin Nyai Nuri, terletak di sebelah barat Pondok Pesantren An-Nuriyah.
Dan sejalan dengan putaran zaman, cucu-cucu Kyai Zubair-pun terus berkembang melahirkan generasi berikutnya. Periode ini disebut periode cicit-cicit Kyai Zubair. Dan seiring dengan kondisi tersebut maka keberadaan langgar di kampung Sumber Anyar bertambah pula.
Berikut ini beberapa langgar yang dibangun (didirikan) pada periode tersebut, diantaranya ada yang berkembang menjadi pesantren yaitu :
1. Langgar di kediaman Kyai Marzuqi bin Kyai Syukriwa. Disebut Langgar Bara’dajah, berkembang menjadi pesantren bernama Pondok Pesantren Al-Marzuqi, terletak kurang lebih 150 meter di sebelah barat laut Langgarrajah.
2. Langgar di kediaman Kyai Fathullah bin Bindere Hadu alias Kyai Nawa. Sekarang bernama Pesantren Al-Miftah terletak kurang lebih 100 meter di sebelah barat Pondok Pesantren An-Nuriyah.
3. Langgar di kediaman Nyai Danti binti Kyai Syukriwa. Disebut Langgar Kebunsari (Bhunsari). Berfungsi sebagai tempat belajar mengaji al-Quran bagi anak-anak kecil putra-putri masyarakat sekitarnya. Terletak kurang lebih 350 meter di sebelah timur laut Langgarrajah.
B. Bani Zubair pada Zaman Perang Kemerdekaan
Pada masa perang merebut kemerdekaan, banyak diantara putra-putra para pengasuh Pondok Pesantren Sumber Anyar yang terlibat langsung dalam perang fisik melawan tentara Belanda, diantaranya adalah:
KH. Mawardi Yasin,[4] beliau tercatat sebagai pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia, beliau wafat pada tahun 1950 M.
KH. Jufri Marzuqi,[5] beliau sebagi anggota Laskar Sabilillah.
KH. Syarqowi Miftahul Arifin,[6] beliau sebagai anggota Laskar Sabilillah.
KH. Muhammad Tamim Marzuqi,[7] beliau juga tercatat sebagi anggota Laskar Sabilillah.
Sebenarnya masih ada diantara Bani Zubair yang juga bergabung dalam Laskar Sabilillah, akan tetapi penulis hanya menyebut empat personal tersebut karena mereka terbilang aktif dan memiliki peran penting dalam setiap aksi Laskar Sabilillah melawan kolonial Belanda.
C. Perkembangan Pondok Pesantren Sumber Anyar Sesudah Kemerdekaan
Berikut ini beberapa pondok pesantren/ langgar di Sumber Anyar yang didirikan sesudah kemerdekaan yaitu:
Pondok Pesantren An-Nur didirikan pada Tahun 1959 M. oleh KH bahwi bin Khafi, menantu KH. Syahri Marzuki Laggarrajah.
Pondok Pesantren Raudltul Qur-an, dibina oleh KH. Syahri bin KH. Abdul Halim.
Pondok Pesantren Bahrul Huda Sumber Lancar dibina oleh KH. Bahrawi Alawi.
Pondok Pesantren Al-Madani, dibina oleh KH. Khazin Mahmud, Menantu KH. Syahri Marzuqi Langgarrajah.
Pondok Pesantren Fakhrul Huda/ As-Sirojuddiny Sumber Lancar Tengger dibina oleh KH. Sirojuddin Bukhari.
Pondok Pesantren Al-Hamidy, dibina oleh KH. Rahbini Jawahir, menantu KH. Syahri Marzuqi langgarrajah.
Langgar di kediaman K. Tahal (Kyai Mustahal) Tengger Sumber Lancar, dibina oleh K. Tahal.
Laggar di kediaman Nyai Yumna binti Kyai Syafrawi Sumber Lancar Tengger dibina oleh Nyai Nuriyyah dan Nyai Yumna.[8]
Pondok Pesantren Al–Bustami Sumber Lancar, dibina oleh Kyai Mustami Mu’in.
Pondok Pesantren Al-Mubtadi’in Tengger Sumber Lancar dibina oleh Kiyai Mas’udi Mu’in.
Pondok Pesantren Al-Ma’surin dibina oleh KH. Azhari Mahmud, menantu KH. Abdul Mu’thi Fathullah.
Pondok Pesantren As-Syalafiyah, dibina oleh KH. Ahmadi Sidik Soklancar.
Laggar (musholla) dikediaman Kyai Mujtaba dibangun pada Tahun 1999 oleh Kyai Mujtaba, menantu K Dasuqi Syafrawi .
1. Tentu saja langgar pada masa itu masih sangat sederhana (masih terbuat dari gedhek).
[2]. Kyai Anom Akkor ini tidak mempunyai keturunan.
[3]. Kediaman Raden Kholil tersebut sekarang ditempati nyai Mudaniyah binti kyai Jawahir.
[4]. Kyai Haji Mawardi Yasin adalah putra kyai Yasin pengasuh pondok pesantren Soklancar Sumber Anyar.
[5]. Kyai Haji Jufri adalah purta kyai Haji Marzuqi Sumber Anyar, Kyai Haji Jufri hijrah ke Sumber Batu Blumbungan dan mendirikan pondok pesantren yang sekarang bernama PP.As-Syahidul Kabir.
[6]. Kyai Syarqowi adalah putra kyai Miftahul Arifin Sumber Anyar. Kyai Haji Syarqowi hijrah ke Panempan Pamekasan dan mendirikan pesantren yang sekarang beranama PP. Matsaratul Huda.
[7]. Kyai Haji Muhammad Tamim adalah putra Kyai Haji Marzuqi Sumber Anyar. K.H Muhammad Tamim pindah dan menetap di Morpenang Larangan Luar, beliau juga mendirikan lembaga pendidikan Islam di tempat tersebut.
[8]. Nyai Nuriyyah adalah Istri Kyai Syafrawi yang ketiga, ibu kandung Nyai Yumna. Nyai Yumna tidak mempunyai keturunan.
COPAS :http://jaylibraz.blogspot.co.id
0 komentar :
Posting Komentar